Pernahkah anda berfikir ketika Allah memberi bantuan
Itulah yang banyak dilakukan dan dijalankan oleh para Networker kita, yang sekarang telah mencapai jajaran "Leader", dan seorang Leader hati dan sifatnya penuh dengan kesabaran.
Bukankah Allah sendiri telah menurunkan ayat (baca: QS Ar-Ra'd:22)
"Orang-orang sabar karena mencari Ridho Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rejekinya kepada mereka (fakir miskin) serta membalas kejahatan dengan kebaikan, maka akan mendapat tempat di sisi-Nya"
Maka dengan mengacu ayat ini banyak Leader Tianshi bekerja membantu Jaringan agar bisa memaksimalkan potensi diri (Character Building) dan kedepannya mereka juga menjadi Leader Tianshi yang eksis sebelumnya
Wassalam:
Forum sharing:
Heri Supadi
ID Tianshi No:910.87887
Sunday, June 15, 2008
Thursday, June 12, 2008
Tung Desem "Sang Motivator"
Mungkin anda kaget dengan ulah Pak Tung Desem yang menyebar uang melalui pesawat dengan jumlah uang yang disebar sebesar Rp.100 juta.
Saya pernah baca bukunya yang berjudul "Marketing Revolution" buku milik upline saya waduh memang benar-benar ruuuuuuuuaaaaarrrr biasa.
Memang uang bukan segalanya, tetapi asal anda tahu segalanya harus pake uang, nggak percaya coba aja anda kalau mo kencing di WC umum apa nggak bayar padahal yang mo dikeluarkan khan sisa dari product body sendiri hehehe.
Saya pernah baca bukunya yang berjudul "Marketing Revolution" buku milik upline saya waduh memang benar-benar ruuuuuuuuaaaaarrrr biasa.
Memang uang bukan segalanya, tetapi asal anda tahu segalanya harus pake uang, nggak percaya coba aja anda kalau mo kencing di WC umum apa nggak bayar padahal yang mo dikeluarkan khan sisa dari product body sendiri hehehe.
Tuesday, June 10, 2008
Up Line beli saya
Ketika orang ribut dengan kenaikkan BBM ada beberapa orang tidak terpengaruh dengan keributan.
Ketika upline beli mobil downline juga beli mobil
Ketika upline dapat bonus downline juga dapat bonus itulah yang dikatakan kerja jaringan
Semua yang aktif dan ngotot menjalankan ikut merasakan akan bonus yang dibagikan setiap bulan
Ketika upline beli mobil downline juga beli mobil
Ketika upline dapat bonus downline juga dapat bonus itulah yang dikatakan kerja jaringan
Semua yang aktif dan ngotot menjalankan ikut merasakan akan bonus yang dibagikan setiap bulan
Ketika Allah memberi bantuan...
Ketika kita tidak punya pekerjaan, kita mencari pekerjaan dan ditolak
Ketika orang lain melamar pekerjaan tidak perlu mencari-cari tapi langsung dapat
Ketika kita memohon bantuan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.
Tapi orang lain dengan segala daya upayanya mencari harta dengan mudah didapat.
Ketika kita memohon jalan keluar akan bantuan
Ada yang menawarkan bisnis membangun jaringan, yang menawarkan malah diremehkan.
Inilah hidup kita hanya melihat sedikit tapi sudah merasa tahu banyak....
Dan bisnis jaringan yang orangtuaku jalankan, yang memberikan impian kedepan, dengan kehidupan yang mulai mapan tanpa batasan
Ketika orang lain melamar pekerjaan tidak perlu mencari-cari tapi langsung dapat
Ketika kita memohon bantuan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.
Tapi orang lain dengan segala daya upayanya mencari harta dengan mudah didapat.
Ketika kita memohon jalan keluar akan bantuan
Ada yang menawarkan bisnis membangun jaringan, yang menawarkan malah diremehkan.
Inilah hidup kita hanya melihat sedikit tapi sudah merasa tahu banyak....
Dan bisnis jaringan yang orangtuaku jalankan, yang memberikan impian kedepan, dengan kehidupan yang mulai mapan tanpa batasan
Tuesday, April 29, 2008
NET-P
Net-P
Apakah yang dimaksud dengan Net-P.
Net-P adalah sebuah proses pembelajaran yang diberikan oleh Leader-Leader yang telah berhasil mencapai peringkat yang diwajibkan oleh Business Of Tianshi yaitu *8 (baca: Bintang 8), Net-P adalag kepanjangan dari Network Education Tools Program dan anda akan diberikan pembelajaran jarak jauh dengan Kaset atau CD.
Oleh karena itu segeralah mendaftar sebagai pelanggan Net-P apabila anda ingin secara serius mencapai peringkat *8 dibisnis Network Marketing Tianshi yang didukung oleh Support System Unicore dengan cepat atau hubungi:
Leader Tianshi anda Nani Juhairani ID No.910.87886 di telp: 919.98263
Dan dapatkan Bonus Core Leader Weekend atau Dream to Hongkong (dengan kriteria khusus).
Net-P adalah sebuah proses pembelajaran yang diberikan oleh Leader-Leader yang telah berhasil mencapai peringkat yang diwajibkan oleh Business Of Tianshi yaitu *8 (baca: Bintang 8), Net-P adalag kepanjangan dari Network Education Tools Program dan anda akan diberikan pembelajaran jarak jauh dengan Kaset atau CD.
Oleh karena itu segeralah mendaftar sebagai pelanggan Net-P apabila anda ingin secara serius mencapai peringkat *8 dibisnis Network Marketing Tianshi yang didukung oleh Support System Unicore dengan cepat atau hubungi:
Leader Tianshi anda Nani Juhairani ID No.910.87886 di telp: 919.98263
Dan dapatkan Bonus Core Leader Weekend atau Dream to Hongkong (dengan kriteria khusus).
Labels:
Info Bisnis,
Support system
Friday, March 7, 2008
Sedia payung........
Masih ingatkah kita terhadap peribaha ini.
Peribahasa Indonesia yang berbunyi seperti ini :"Sedia payung sebelum hujan".
Kalimat atau pribahasa ini sudah cukup lama dikenal semenjak kita menduduki bangku Sekolah Dasar dulu, dan sampai saat ini masih cukup terngiang-ngiang ditelinga kita.
Dan selalu kita mengikutinya untuk menghindari hujan. Ataupun terhindar dari sengatan teriknya matahari dikala tengah hari.
Untuk jelasnya baca saja diblognya Leader saya........
Peribahasa Indonesia yang berbunyi seperti ini :"Sedia payung sebelum hujan".
Kalimat atau pribahasa ini sudah cukup lama dikenal semenjak kita menduduki bangku Sekolah Dasar dulu, dan sampai saat ini masih cukup terngiang-ngiang ditelinga kita.
Dan selalu kita mengikutinya untuk menghindari hujan. Ataupun terhindar dari sengatan teriknya matahari dikala tengah hari.
Untuk jelasnya baca saja diblognya Leader saya........
Monday, March 3, 2008
Mungkin ini ukuran sukses
Kalau boleh tahu, apa ukuran sukses......?
(kalau menurut saya sukses perlu proses, dan harus berani tergores-gores)
Dan apa ukuran orang yang berharga......?
(ini juga menurut saya orang berani membayar harganya seperti: capek, lelah, mau belajar dan diajar/humble, care sama orang lain dlsb yang sifatnya positip)
Tapi menurut saya lho, bisa salah dan kemungkinannya juga bisa "benar"
Tapi ini bukan indikator yang praktis. Sukses ini ibarat orang dapat proyek besar, lalu dapat uang banyak. Sekejap dia menjadi orang kaya yang sukses finansial. Lalu sibuk belanja. Lalu tak lama kemudian kembali menjadi orang yang punya hutang. Kekayaannya yang sekejap hanyalah indikator semu. Semestinya kita berpegang pada ‘wealth ratio’ itu, yang tak begitu kelihatan namun jauh lebih esensial. Seseorang boleh tampak sederhana, baju biasa saja, rumah biasa saja, kendaraan hanya sepeda motor. Tapi orang ini merdeka karena pasif income nya melebihi pengeluarannya setiap bulan. Orang ini kaya. Sebaliknya seseorang punya mobil mewah, rumah keren, dengan gaya hidup yang mewah. Tapi pasif income nya nol besar. Jelas yang ini cuman ‘kelihatannya’ kaya, aslinya sih miskin. Demikian juga dengan amalan itu, jangan-jangan keshalehan mendadak di bulan puasa itu akhirnya hanya indikator yang melenakan. Merasa sudah akan sukses di akhirat, eh ternyata masih termasuk yang dimurkai Tuhan. Demikian pula dengan yang bolak-balik umroh maupun haji berkali-kali, jangan-jangan ya ditolak semua ibadahnya itu.
Jadi apa ya, indikator yang tepat bahwa kita ini (kira-kira) menuju kesuksesan di akhirat?
Sejauh ini, walau belum intensif dicari, jawabannya pasti ada di Qur’an dan hadits. Mari kita cari yang praktis, yang setiap saat dengan mudah kita bisa mengukurnya tanpa harus minta tolong orang lain memberi evaluasi buat kita.
Dulu sekali waktu membaca buku Al Ghazali tentang rahasia shalat, ada satu hal yang melekat dalam benak ini. Kata Al Ghazali, kalau kita ingin bangun malam shalat tahajud, maka syaratnya adalah hari sebelumnya tidak melakukan maksiat. Kalau kita bersih, maka bangun menjadi mudah. Kalau ada maksiat, maka bangun menjadi sulit. Pengalaman sih, Al Ghazali benar. Rasanya memang ada hubungan sebab akibat yang kuat antara kualitas amal sebelumnya dengan kemudahan amal berikutnya. Berarti kalau makin lama makin nyaman beramal shaleh (shalat, sedekah, mengajar ilmu, bekerja dengan tulus, tidak ngerumpiin orang lain, dll) berarti kita di jalur yang benar. Tren nya bergerak naik, mestinya. Mungkinkah ini indikator yang tepat? Cara memberi skornya bagaimana ya?
Atau mungkin indikator yang lebih tepat adalah jumlah shalat khusyu yang kita rasakan? Katanya, khusyu itu karunia, sesuatu yang diberikan kepada kita yang ingin bersungguh-sungguh shalat. Mendapat khusyu itu ciri kita di jalur yang benar. Jadi kalau dalam satu hari kita sholat 5 kali dan tidak khusyu semua, berarti skor ’speedometer’ kita nol (sepertinya seringkali skor kita yang ini nih!). Kalau satu sholat saja kita rasakan khusyu maka skor kita 20 persen, kalau semuanya khusyu berarti sukses skor 100 persen. Skor berguna, seperti halnya angka-angka di speedometer. Walaupun mungkin skor kita naik turun, ya nggak apa-apa, daripada tanpa skor sama sekali.
Sejauh ini kira-kira di sekitar itulah diduga letak indikator yang praktis untuk kita pantau sehari-hari. Semestinya indikatornya kombinasi, satu untuk hubungan kita langsung dengan Tuhan dan satu lagi untuk ibadah sosial, supaya menggambarkan amalan yang lebih luas. Misalnya, jumlah shalat khusyu dan persentase sedekah dari penghasilan. Dua indikator ini cukup praktis karena mudah memantaunya dan dapat dibuat menjadi skor. Tentu saja ini buat diri sendiri, jadi terserah masing-masing untuk membuat indikator sendiri. Yang jelas, tanpa indikator akan berakibat hidup ini menjadi sulit diarahkan, lalu bisa terjadi kita terkejut dan menyesal di kemudian hari, ketika telah tiba masa kita nanti untuk berpulang. Kembali kepangkuan Illahi Rabbi
(kalau menurut saya sukses perlu proses, dan harus berani tergores-gores)
Dan apa ukuran orang yang berharga......?
(ini juga menurut saya orang berani membayar harganya seperti: capek, lelah, mau belajar dan diajar/humble, care sama orang lain dlsb yang sifatnya positip)
Tapi menurut saya lho, bisa salah dan kemungkinannya juga bisa "benar"
Tapi ini bukan indikator yang praktis. Sukses ini ibarat orang dapat proyek besar, lalu dapat uang banyak. Sekejap dia menjadi orang kaya yang sukses finansial. Lalu sibuk belanja. Lalu tak lama kemudian kembali menjadi orang yang punya hutang. Kekayaannya yang sekejap hanyalah indikator semu. Semestinya kita berpegang pada ‘wealth ratio’ itu, yang tak begitu kelihatan namun jauh lebih esensial. Seseorang boleh tampak sederhana, baju biasa saja, rumah biasa saja, kendaraan hanya sepeda motor. Tapi orang ini merdeka karena pasif income nya melebihi pengeluarannya setiap bulan. Orang ini kaya. Sebaliknya seseorang punya mobil mewah, rumah keren, dengan gaya hidup yang mewah. Tapi pasif income nya nol besar. Jelas yang ini cuman ‘kelihatannya’ kaya, aslinya sih miskin. Demikian juga dengan amalan itu, jangan-jangan keshalehan mendadak di bulan puasa itu akhirnya hanya indikator yang melenakan. Merasa sudah akan sukses di akhirat, eh ternyata masih termasuk yang dimurkai Tuhan. Demikian pula dengan yang bolak-balik umroh maupun haji berkali-kali, jangan-jangan ya ditolak semua ibadahnya itu.
Jadi apa ya, indikator yang tepat bahwa kita ini (kira-kira) menuju kesuksesan di akhirat?
Sejauh ini, walau belum intensif dicari, jawabannya pasti ada di Qur’an dan hadits. Mari kita cari yang praktis, yang setiap saat dengan mudah kita bisa mengukurnya tanpa harus minta tolong orang lain memberi evaluasi buat kita.
Dulu sekali waktu membaca buku Al Ghazali tentang rahasia shalat, ada satu hal yang melekat dalam benak ini. Kata Al Ghazali, kalau kita ingin bangun malam shalat tahajud, maka syaratnya adalah hari sebelumnya tidak melakukan maksiat. Kalau kita bersih, maka bangun menjadi mudah. Kalau ada maksiat, maka bangun menjadi sulit. Pengalaman sih, Al Ghazali benar. Rasanya memang ada hubungan sebab akibat yang kuat antara kualitas amal sebelumnya dengan kemudahan amal berikutnya. Berarti kalau makin lama makin nyaman beramal shaleh (shalat, sedekah, mengajar ilmu, bekerja dengan tulus, tidak ngerumpiin orang lain, dll) berarti kita di jalur yang benar. Tren nya bergerak naik, mestinya. Mungkinkah ini indikator yang tepat? Cara memberi skornya bagaimana ya?
Atau mungkin indikator yang lebih tepat adalah jumlah shalat khusyu yang kita rasakan? Katanya, khusyu itu karunia, sesuatu yang diberikan kepada kita yang ingin bersungguh-sungguh shalat. Mendapat khusyu itu ciri kita di jalur yang benar. Jadi kalau dalam satu hari kita sholat 5 kali dan tidak khusyu semua, berarti skor ’speedometer’ kita nol (sepertinya seringkali skor kita yang ini nih!). Kalau satu sholat saja kita rasakan khusyu maka skor kita 20 persen, kalau semuanya khusyu berarti sukses skor 100 persen. Skor berguna, seperti halnya angka-angka di speedometer. Walaupun mungkin skor kita naik turun, ya nggak apa-apa, daripada tanpa skor sama sekali.
Sejauh ini kira-kira di sekitar itulah diduga letak indikator yang praktis untuk kita pantau sehari-hari. Semestinya indikatornya kombinasi, satu untuk hubungan kita langsung dengan Tuhan dan satu lagi untuk ibadah sosial, supaya menggambarkan amalan yang lebih luas. Misalnya, jumlah shalat khusyu dan persentase sedekah dari penghasilan. Dua indikator ini cukup praktis karena mudah memantaunya dan dapat dibuat menjadi skor. Tentu saja ini buat diri sendiri, jadi terserah masing-masing untuk membuat indikator sendiri. Yang jelas, tanpa indikator akan berakibat hidup ini menjadi sulit diarahkan, lalu bisa terjadi kita terkejut dan menyesal di kemudian hari, ketika telah tiba masa kita nanti untuk berpulang. Kembali kepangkuan Illahi Rabbi
Subscribe to:
Posts (Atom)